Friday, May 4, 2012

Nebula Dalam 2 Mei


 Ini hanyalah sebuah kisah sederhana. Kisah seorang anak manusia yang berusaha menyelami arti makna dari sebuah opera panjang yang bernama kehidupan. Dimana Sang Sutradara Kehidupan-lah yang Berkuasa dan Menentukan jalan ceritanya.
Ini hanyalah kisah sederhana. Kisah tentang arti makna perjuangan, yang sebagaimana tak akan pernah habis, hingga ajal mejemput.
Ini hanyalah kisah sederhana. Kisah seorang anak manusia, yang berusaha untuk menjadi bintang yang bersinar paling kuat diantara lainnya. Namun tanpa orang lain tahu, bintang yang paling bersinar diantara lainnya, memancarkan energi lebih banyak. Sehingga harus lebih dulu meredup dan bersiap menjadi nebula.




***

Pagi ini datang terlalu cepat, seakan bel pengingat masa lalu itu pun berdentang. Seperti tahun-tahun yang lalu, aku belum siap menghadapinya. Dan mungkin akan selalu tidak siap. Kupaksa berdiri dari kasur, memasuki kamar mandi dan bersiap untuk berangkat. Hari ini akan menjadi hari yang berat, kupaksakan.
Seorang wanita yang sedang sibuk di dapur, menoleh atas kehadiranku
“siap untuk hari ini?”
Aku tersenyum “kita sudah melewati hari ini bertahun-tahun..”
Dia membalas senyum “mungkin..”
Aku hanya membalasnya dengan tersenyum, lantas bergegas membenahi diri.
Hari ini adalah hari pendidikan nasional, seperti sekolah-sekolah lainnya, hari ini diawali dengan upacara sebagai peringatan. Setelah selesai, aku bergegas menuju kelas yang akan ku ajar.
Selamat pagi anak-anak” sapaku dengan ceria, seperti biasanya.
Pagi paaaak” jawab mereka serentak, tak kalah ceria nya denganku. Kata murid-muridku, aku adalah salah satu guru yang mereka kagumi. Belajar apa kita hari ini?” tanyaku, karena materi semester ini habis lebih cepat.
bukannya semua materi sudah habis pak? ” kata Gracia salah satu muridku.
Aku merengut sejenak, menimbang-nimbang. Hmm bagaimana kalau kita belajar tentang arti kehidupan?” Aku bisa mendengar sebagian murid-muridku bersorak sambil merapikan tempat duduknya untuk mendengarkan ceritaku, sebagian juga ada yang menggeram bosan. Sementara, mataku membuta. Terlihat siluet-siluet dimana kenangan pahit dan manis berkelebat dan mulai mengingat-ingat lembaran-lembaran perkamen tua yang di sebut masa lalu. Dan buku biru itu seakan terbuka lebar-lebar dalam benakku...



***
 1 Januari, 1995

Aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursiku. Sesekali, aku mengulangi membaca sambil menimbang-nimbang surat tawaran kerja yang sedang ku pegang. Aku masih sedikit ragu dengan tawaran itu, melihat kondisi kesehatanku belakangan ini. Ditambah lagi, aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarku. Dan belum tentu, mereka menanggapiku dengan positif.
Aku menghela nafas pelan. Ya sudahlah tak apa, aku memutuskan sendiri dalam hati. Lagipula, hanya sampai kenaikan kelas, bukan? Tak apa, hanya 1 tahun. Dan semoga saja waktuku cukup..

*

Akhirnya, waktuku untuk memulai pengajaran telah tiba. Dengan semangat yang menggebu-gebu, kulajukan sepeda buntutku ke sekolah tempatku mengajar. Aku sedikit gugup karena ini adalah pengalaman pertamaku sebagai wali kelas. Jadi, bagaimanapun caranya, aku harus bisa merubah anak didikku menjadi lebih baik. Bagaimanapun mereka.
Tunggu dulu. Bagaimanapun mereka? Yah, semoga mereka tidak menyusahkanku.
15 menit perjalanan, aku sudah sampai di pintu gerbang sebuah Sekolah Menengah Atas. Kelas X1 IPA-3, yaitu kelas yang akan menjadi kelasku mengajar, dengar-dengar adalah kelas dengan rata-rata terburuk dan mayoritas murid yang malas. Mungkin ini adalah sebuah cobaan. Sambil berjalan menuju kelas XI IPA-3, aku terus-terusan memikirkan semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Setelah sampai di depan kelas, kulangkahkan kakiku untuk masuk kedalam kelas. Kelas yang tadinya sangat riuh, tiba-tiba hening sejenak. Semua bola mata itu tertuju kearahku. Tatapan mereka seakan menggambarkan  tanda tanya besar.
Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas. Bola mataku menyipit dan terfokuskan ke seorang murid laki-laki yang sedang duduk diatas meja sambil mendengarkan musik dengan headset yang terjuntai dari kedua telinganya. Kulangkahkan kakiku untuk masuk ke kelas dan menaruh tumpukan buku diatas meja guru.
"Selamat pagi anak-anak,” sapaku sedikit berusaha ceria. Namun, hanya angin berdesau yang menjawab sapaanku. “Nama saya Shanindya Naura Shalika. Kalian bisa panggil saya bu Shanin. Saya guru sekaligus wali kelas kalian yang baru. Semoga kalian bisa berkerja sama dengan saya dan menerima saya dengan baik disini" hanya ada tatapan heran dan kudengar beberapa murid mulai berbisik-bisik tentangku. Aku melengos pelan, lalu kembali sibuk dengan menata buku-bukuku yang tergeletak sembarang diatas meja guru.
Setelah merapikan meja dan hendak memulai pelajaran, kulirik lagi murid laki-laki yang dengan santainya masih duduk diatas meja. Aku menatapnya heran. "Hei kamu yang duduk diatas meja! kamu tidak tau? saya ada disini, guru kamu sekarang! Kenapa kamu tidak kembali ke tempat dudukmu agar kita mulai pelajaran ini?"
Murid laki-laki itu hanya memandangku dengan menaikkan sebelah alisnya. Lalu tak lama, ia mulai turun dari meja dan keluar meninggalkan kelas. “Hei, mau kemana kamu? Saya tidak menyuruhmu untuk keluar kelas ya!” sergahku
Dia hanya mengangkat bahunya lalu berkata, “ Saya bosan bu...” Ia pun meninggalkan kelas sambil mendengarkan musik dan berjalan dengan santainya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Sungguh tak menyangka akan ada murid senakal itu.
Tak lama, aku kembali memasuki kelas dan mulai mengabsen murid sebagai perkenalan dari A-Z. Dan aku akhirnya tau, pemuda itu bernama Mario Stevano. Cukup bagus pikirku, tapi tidak sejalan lurus dengan tingkah lakunya. Aku duduk di kursi dan permen karet bekas melekat di rokku. Sial. Apalagi setelah ini? "Siapa yang menaruh ini?” Murid-murid di kelasku masih membisu.”Jika kalian tidak ada yang mengaku, sepulang sekolah ini kalian harus membersihkan wc murid dan guru, tak terkecuali perempuan atau laki-laki"
Kulanjutkan pelajaran setelah kupukulkan sebuah penggaris besi panjang diatas meja, agar aku mendapatkan perhatian. Tiba-tiba seorang murid cantik yang kuketahui namanya adalah Ashilla, mengaku dengan nada sedikit takut. “Itu perbuatan mario bu..
Aku mendesah tak kentara. Anak itu lagi? Apa saja yang sudah di perbuatnya hari ini? "Apakah ada bukti? Kalau tidak ada, kalian tetap membersihkan wc. Saya tidak mau tidak berbuat adil, kataku dengan tegas. Aku bisa mendengar anak-anak mulai mengerang, tak senang.
Setelah 90 menit berlalu, akhirnya waktu mata pelajaranku selesai, digantikan guru lain. Setelah bel pulang, aku kirimkan surat agar orang tua mario datang menghampiriku esok hari.

***

Pada saat jam istirahat, kulihat dua orang paruh baya memasuki kantorku. Dan mungkin mereka adalah orangtua Mario. Wanita yang sepertinya adalah ibu Mario, langsung menjabat tanganku.
"Bu, apakah anak saya berbuat ulah lagi?” kata ibu Mario. Lagi? Berarti selama ini orangtua Mario sudah sering dipanggil?
“Bu tolong, saya titip Mario yah bu, mario memang anak yang sangat nakal, tapi saya yakin, ibu bisa merubah mario." Gila! apa maksudnya ini? aku saja hampir undur diri setelah melihat murid-murid X1 IPA-3 yang tak punya aturan itu. Apa alasan mereka bisa percaya kalau aku bisa merubah  menjadi lebih baik? lucu sekali.
"Saya akan coba bu." Jawabku terpaksa. Besok jadwal pelajaranku lagi. Ayo mari kita mulai pertempurannya.

"Pagi anak-anak!" tidak ada tanggapan. Tapi tetap saja kuteruskan. "mulai hari ini, saya mau kalian serius dalam pelajaran! Jangan hanya bercanda setiap hari, setiap waktu" kataku dengan nada tegas. “Dan mulai hari ini juga, pelajaran Intensif akan dimulai” hening. Sedetik kemudian terdengar protes dari seluruh murid. Kecuali ashilla. Lumayan juga murid yang satu ini.
Tanpa basa-basi, kumulai pelajaran. Dan benar saja, murid-murid kelas ini sangat sangat kurang dalam pelajaran fisika. Tak salah aku memberi pelajaran tambahan setiap hari. Tak jarang ku bentak, ku sindir, dan ku ceramahi mereka. Tapi tak jarang juga aku ikut tertawa saat Mario melontarkan leluconnya.
Sambil mondar-mandir di depan kelas. "sadarkah kalian bahwa sebentar saja sudah menjelang kelas 12? Dan kalian masih seperti ini? Jangan harap bisa lulus!" bentakku dengan emosi yang memuncak, entah bagaimana kurasa semua murid terpaku.”kalian berjuang disini bukan hanya untuk nilai yang bagus, tapi juga untuk masa depan kalian, demi mengahrumkan nama kalian sendiri”lanjutku. Semua diam.

Sudah sekitar sebulan aku mengajar disini. Kulihat perkembangan kelas XI IPA 3 cukup pesat meskipun masih jauh dari kata excellent tapi kami mulai menyatu bagai lem yang tak terpisahkan. Terutama Mario. Aku teringat saat Mario mendapat nilai paling tinggi meskipun hanya 85. Tentu saja Ashilla tidak masuk hari itu.
Hari demi hari kulewati bersama mereka. Setiap pagi kusapa seluruh muridku dengan riang, melupakan segala sakit yang mulai menggerogoti tubuh ini. Tidak kusadar, aku nyaman sekali berada disni, aku suka membantu mereka mengerjakan soal-soal yang menurut mereka susah. Kuberikan motivasi-motivasi yang terkadang hanya masuk dan keluar begitu saja dari telinga mereka. Sistem pelajaran, kuubah sudah. Siapa yang nilainya bagus, akan diberi hadiah, jika sebaliknya, hukuman menanti. Karena itu mereka sepertinya berubah dengan pesat. Tentu saja mereka masih jail, Tak terkecuali Mario. Karna dialah sang provokator. Tapi aku sudah terbiasa, mereka sudah biasa juga aku beri hukuman yang tidak tanggung-tanggung melelahkannya, tapi hukuman yang bisa menguntungkan juga bagiku. Entah membersihkan kelas, entah membersihkan sampah dilapangan, entah mengambil daun-daun yang berguguran agar taman tetap rapi.
Ashilla, murid jagoanku itu kadang membantuku. jika ada Ashilla, pasti Mario ikut. Selalu saja. Kadang jika aku memasak sesuatu yang baru, kubuatkan juga seluruh murid-muridku, mereka sepertinya sangat senang.
Beberapa hari lagi UAS dimulai, persiapan anak-anak menurutku sudah matang, tidak ada alasan lagi untuk gagal. UAS selesai, aku memasukan nilai-nilai mereka kedalam raport. Dan pertemuan wali murid.
               Jelas terjadi perubahan, seperi upik abu yang menjadi cinderella. Tapi ini belum maksimal, tapi lumayan sebagai awal. Ashilla mendapat ranking pertama, dan mario ke 6, untunglah anak itu tidak menjadi ranking terakhir seperti awalnya.

Bulan berganti, ashilla kusertakan dalam olimpiade bersama murid lainnya. Mario ikut dalam ekskul basket. Mereka berkembang ternyata.

Jika ada setitik harapan untuk sembuh dalam hidup ini, aku akan berani mempertaruhkan segala yang kupunya untuk itu. Aku teringat ketika pertama kali dokter mendiagnosa penyakitku yang sudah tidak bisa disembuhkan, hanya transplatansi yang bisa
 Jantungku berdetak lebih lemah sekarang. Entah karena obat yang sudah tidak berpengaruh lagi padaku, atau karena aku sering kecapekan. Aku sering mengakhiri kelas dan berlari kedokter gara-gara jantung sialan ini. Dokter menambah dosis obatku, namun tetap saja rasa sakit ini masih merasuki tubuhku.  
Seperti saat aku mendapat serangan. Aku benci saat-saat ini. Kuteguk obatku.
Ranking mario naik! dia tidak cabut kelas sekarang, dia menurut saat ku sertakan ke dalam olimpiade bersama ashilla. Mario ranking 2, hebat sekali! Applause untuk kerja kerasnya!
Bertahan, berjuang, demi murid-muridku yang sudah berjuang juga. Aku percaya, suatu hari nanti, mereka bisa membuat namaku harum, membuat sekolah bangga. Meskipun mungkin, setelah itu. aku sudah tidak ada disana. Sudah tidak bisa berdiri memberikan tepuk tangan terkeras untuk mereka. Tapi, aku akan berusaha.

Setiap hari ashilla dan mario aku beri bimbingan belajar. Mereka berjuang keras. Aku sudah mendaftarkan mereka pada ajang itu, sekarang tinggal melihat bagaimana mereka berhasil.

Hasil yang memuaskan! keduanya masuk ke dalam babak final. Final olimpiade, dilaksanakan tanggal 2 Mei, hari pendidikan, tanggal lahirku juga, jika mereka menang, itu pasti akan menjadi hadiah terindah bagi ulang tahun ke 25ku. Saat bimbingan, aku ceritakan itu pada mereka, mereka berjanji  
"iya bu, kami akan berusaha untuk bu shanin, ya kan Rio?"
"Yap bener dong!" mario, shilla dan aku tertawa.

Tanggal 29 april 1995

Akhirnya setelah jadwal bimbingan yang sangat padat. 3 hari menuju final, aku masih tegap, berdiri mengajar kelas lain yang aku tangani, tiba-tiba saja ada satu sentakan kesakitan dan kusadari aku  jatuh terbaring di lantai. Terdengar suara muridku meneriakkan namaku, lalu menggendongku, entah menuju kemana.

Tanggal 30 april 1995

 2 hari lagi menuju final, aku sedang terbaring di kasur keras yang dingin. Aku, Shanindya Naura Shalika, Mengaku, aku terlalu lelah untuk ikut tertawa bersama mereka ketika Mario mengeluarkan lelucon, terlalu lelah untuk mendengarkan perdebatan kecil antara ashilla dan Mario. aku harap kelas XI IPA 3 tetap baik-baik saja, dengan atau tanpa aku disana. Dulu, aku berharap bisa seterang bintang yang bersinar paling kuat. Namun ternyata, bintang yang paling kuat cahannya sudah mulai redup dahulu.

Tanggal 1 mei 1995


Tepat pukul 23.47. beberapa jam lagi mario dan Ashilla menuju final. Aku menuliskan kata-kata ini dengan susah payah. Sebenarnya aku sudah tidak kuat untuk menulis, rasa sakit ini sudah tiada tara nya. Donor jantungku pun belum juga datang. Untuk orang yang tidak tau, aku menderita penyakit jantung sejak SMA, ironis memang. Aku tidak bisa menikmati rasa mudaku. Aku putus asa untuk kesekian kalinya.
Kurasa ini sudah memasuki tanggal 2 Mei. Selamat Ulang Tahun Shanindya Naura Shalika! Semoga dosa-dosa yang telah kuperbuat diampuni! Maaf mario, maaf Ashilla, maaf semua, sekarang aku mungkin tidak bisa berjuang lagi untuk kalian. aku sudah sangat lelah, aku melepas kalian dengan bangga. terimakasih untuk segalanya. Sekarang saat aku pergi.  Perjalananku sudah berakhir.

Dan aku pun menjadi bintang yang paling bersinar yang sayangnya mulai meredup dan bersiap menjadi Nebula


***

Aku mengakhiri cerita, dengan muka masam.
"Dan tentu saja hari ini beliau berulang tahun. Bersamaan diperingati juga sebagai hari dimana beliau telah tiada. sampai sekarang, buku harian itu saya simpan dengan rapi. saya bersihkan jika ada debu, beliau memang pahlawan saya" tiba-tiba aku ingat sesuatu.
"Beliau juga mengirimkan suatu surat pada tanggal 2 Mei, mau tau isinya?" Murid-muridku menjawab "tentu saja jika bapak berkenan" Oke aku menjelaskan.

*

            2 mei 1995

Sudah beberapa hari aku tidak melihat bu Shanin. Dari desas-desus yang terdengar beliau sedang ada urusan keluarga. Padahal hari ini, aku dan Ashilla menghadapi final olimpiade. Harusnya bu Shanin ada disini! Pasti ada yang salah.

Setelah upacara memperingati hari pendidikan selesai, aku masih tidak melihat bu Shanin. Bu shanin hari ini berulang tahun, Ashilla dan aku sudah membeli kado. Dan kita juga sudah siap secara mental dan otak untuk memenangkan olimpiade. Tapi bu Shanin menghilang.
Terdengar pengumuman. "saya selaku kepala sekolah menyampaikan dengan rasa duka yang mendalam. Guru yang kita sayangi, bu Shanindya Naura..." Suara kepala sekolah agak tercekat "telah tiada..." Beliau meneruskan.
Kurasakan tubuh Ashilla bergetar. aku memeluknya, "Bu Shanin gak mungkin ninggalin kita Rio." Dia berguncang-guncang dalam pelukanku, aku hanya diam. Masih shock. Ashilla menangis sejadi-jadinya.
Pertama kalinya XII IPA 3 diselimuti duka mendalam. Mereka meraung, tak peduli seberapa keras raungan itu. Shilla masih tetap dalam pelukanku. Ada pengumuman lagi "ashilla zahrantiara dan mario stevano dari X1 IPA-3 diharap keruang kepala sekolah sekarang" ada apa lagi ini.
Kulihat kepala sekolah mengulurkan sepucuk surat dan sebuah buku padaku. apa itu? Entahlah otakku tidak bisa berfikir sekarang ini. "Ini surat dari bu Shanin untuk kalian XII IPA 3" aku terima surat itu. "Bacalah bersama-sama” Air mukanya berubah, menjadi berkabut, tak secerah biasanya.
Aku dan shilla kembali ke kelas. Membuka surat itu dengan hati-hati. kubacakan selantang yang aku bisa. "Ini surat dari bu shanin, kita buka ya?" Semua mengangguk.
"Pagi yang cerah ya anak-anak? kalau surat ini sudah ada di tangan kalian, berarti ibu sudah tidak ada disana..." Bunyi bait pertama. Aku tercekat, tenggorokanku rasanya kering.
"Ibu mohon, kalian tetap berjuang, ada atau tanpa ibu disana, ibu sangat bangga sama kalian, nilai-nilai kalian berubah pesat, kalian makin hebat dan makin menonjol di SMA ini. Ibu masih akan tetap menunggu hasil yang maksimal dari kalian di UAS taun depan. Ibu sangat bangga terhadap kalian. Selalu. Dan untuk mario dan ashilla." Aku mulai meneteskan airmata, cengeng sekali rasanya.
"Ibu juga masih menunggu.... menunggu kemenangan kalian di olimpiade nanti. ibu dengar, kalian tetap belajar sendiri ka saat ibu dirawat dirumah sakit? pasti kalian bisa! Kalian itu hebat! Ibu berharap berada disana, memberi kalian berdua tepuk tangan paling keras dan meneteskan airmata bahagia untuk kalian. Dan untuk XII IPA 3 tetap berjuang ya anak-anak!" Surat berakhir, tangisan makin menjadi-jadi... oh tuhan...
Sekarang, waktunya aku dan Shilla berjuang demi bu shanin.

*

"Saya dan shilla berhasil, saya dan Ashilla mendapat juara 1. Dan itu semua kami persembahkan untuk bu shanin. Sejak tanggal itu, 2 mei adalah hari menyakitkan sekaligus paling manis. 2 mei tidak hanya dijadikan hari pendidikan. bagiku, bagi Ashilla, dan bagi murid XII IPA 3, tanggal itu adalah hari dimana kami mengerti arti kehilangan. Mengerti arti perjuangan sesungguhnya, yang sebelumnya kami tidak pernah tau itu. Orang tua dari murid bangga, sekolah pula, apalagi kami. kami sudah berjanji pada diri sendiri, dan bu shanin, untuk tetap berjuang, demi ibu dhanin, dan demi masa depan kami.." Ya. aku meneteskan air mata, kuseka dengan cepat. Muridku juga ada beberapa yang menangis, apa sebegitu menyentuhnya cerita ini? mungkin bagi orang yang belum pernah merasakan kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, akan berkata tidak.
Livia, muridku bertanya "Lalu apa kabar Ashilla pak? dan anak-anak XII IPA 3 ?" Aku tertawa kecil mengingatnya. "Saya jatuh cinta sama Ashilla. Ashilla menjadi dokter anak. sekaligus istri saya, ibu dari anak saya yang lucu” aku tertawa kecil. Kudengar murid-murid berceloteh betapa romantisnya aku dan Ashilla. “Dan anak-anak XII IPA 3. seperti janjinya, mereka sukses! dan pasti bu shanin akan bangga disana"
"Dan ini sebabnya, bapak bisa mengajar dan dihormati, disegani oleh siswa-siswa disini?"Kata Gracia "Ya saya ingin mencontoh bu shanin, karena saya menjadi merasa dekat dengan bu shanin jika melakukan pekerjaan ini. Pesan saya, berjanjilah untuk selalu berusaha membanggakan orang yang kamu sayangi dan menyayangimu. itu hal yang membahagiakan untuk mereka. Percayalah!" bel berbunyi. Saatnya mengakhiri pelajaran, setelah aku ucapkan salam, aku berlalu meninggalkan kelas.

No comments:

Post a Comment