Ini hanyalah sebuah kisah sederhana. Kisah seorang anak manusia yang
berusaha menyelami arti makna dari sebuah opera panjang yang bernama kehidupan.
Dimana Sang Sutradara Kehidupan-lah yang Berkuasa dan Menentukan jalan
ceritanya.
Ini hanyalah kisah sederhana. Kisah tentang arti makna perjuangan, yang
sebagaimana tak akan pernah habis, hingga ajal mejemput.
Ini hanyalah kisah sederhana. Kisah seorang anak manusia, yang berusaha untuk
menjadi bintang yang bersinar paling kuat diantara lainnya. Namun tanpa orang
lain tahu, bintang yang paling bersinar diantara lainnya, memancarkan energi
lebih banyak. Sehingga harus lebih dulu meredup dan bersiap menjadi nebula.
***
Pagi ini datang terlalu cepat, seakan bel pengingat
masa lalu itu pun berdentang. Seperti tahun-tahun yang lalu, aku belum siap menghadapinya. Dan mungkin akan selalu tidak siap. Kupaksa berdiri dari kasur, memasuki kamar mandi dan
bersiap untuk berangkat. Hari ini akan menjadi hari yang berat, kupaksakan.
Seorang wanita yang
sedang sibuk di dapur, menoleh atas kehadiranku
“siap untuk hari ini?”
Aku tersenyum “kita sudah melewati hari ini
bertahun-tahun..”
Dia membalas senyum “mungkin..”
Aku hanya membalasnya
dengan tersenyum, lantas bergegas membenahi diri.
Hari ini adalah hari pendidikan nasional, seperti sekolah-sekolah lainnya,
hari ini diawali dengan upacara sebagai peringatan. Setelah selesai, aku bergegas menuju kelas yang akan ku ajar.
“Selamat pagi anak-anak” sapaku dengan ceria,
seperti biasanya.
“Pagi paaaak” jawab mereka serentak, tak kalah ceria nya
denganku. Kata murid-muridku, aku adalah salah satu guru yang mereka kagumi. “Belajar apa kita hari ini?” tanyaku, karena materi
semester ini habis lebih cepat.
“bukannya semua materi sudah habis pak? ” kata Gracia salah satu muridku.
Aku merengut sejenak,
menimbang-nimbang. “Hmm bagaimana kalau kita belajar tentang arti kehidupan?” Aku bisa mendengar
sebagian murid-muridku bersorak sambil merapikan tempat duduknya untuk
mendengarkan ceritaku, sebagian juga ada yang menggeram bosan. Sementara, mataku membuta. Terlihat siluet-siluet dimana kenangan
pahit dan manis berkelebat dan mulai mengingat-ingat
lembaran-lembaran perkamen tua yang di sebut masa lalu. Dan buku biru itu
seakan terbuka lebar-lebar dalam benakku...
***
1
Januari, 1995
Aku menyandarkan
punggungku ke sandaran kursiku. Sesekali, aku mengulangi membaca sambil
menimbang-nimbang surat tawaran kerja yang sedang ku pegang. Aku masih sedikit ragu
dengan tawaran itu,
melihat kondisi kesehatanku belakangan ini.
Ditambah lagi, aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarku. Dan
belum tentu, mereka menanggapiku dengan positif.
Aku menghela nafas
pelan. Ya sudahlah tak apa, aku memutuskan sendiri dalam hati. Lagipula, hanya
sampai kenaikan kelas, bukan? Tak apa, hanya 1 tahun. Dan semoga saja
waktuku cukup..
*
Akhirnya, waktuku untuk
memulai pengajaran telah tiba. Dengan semangat yang menggebu-gebu, kulajukan
sepeda buntutku ke sekolah tempatku mengajar. Aku sedikit gugup karena ini adalah
pengalaman pertamaku sebagai wali kelas. Jadi, bagaimanapun caranya, aku harus
bisa merubah anak didikku menjadi lebih baik. Bagaimanapun mereka.
Tunggu dulu.
Bagaimanapun mereka? Yah, semoga mereka tidak menyusahkanku.
15 menit perjalanan, aku sudah sampai di pintu gerbang
sebuah Sekolah Menengah Atas. Kelas X1 IPA-3, yaitu kelas yang akan menjadi
kelasku mengajar, dengar-dengar adalah kelas dengan rata-rata terburuk dan
mayoritas murid yang malas. Mungkin ini adalah sebuah cobaan. Sambil
berjalan menuju kelas XI IPA-3, aku terus-terusan memikirkan semua kemungkinan terburuk
yang akan terjadi.
Setelah sampai di depan
kelas, kulangkahkan kakiku untuk masuk kedalam kelas. Kelas yang tadinya sangat
riuh, tiba-tiba hening sejenak. Semua bola mata itu tertuju kearahku. Tatapan
mereka seakan menggambarkan tanda tanya besar.
Ku edarkan pandanganku
ke seluruh penjuru kelas. Bola mataku menyipit dan terfokuskan ke seorang murid
laki-laki yang sedang duduk diatas meja sambil mendengarkan musik dengan headset yang terjuntai dari kedua telinganya. Kulangkahkan kakiku untuk masuk ke
kelas dan menaruh tumpukan buku diatas meja guru.
"Selamat pagi anak-anak,” sapaku sedikit berusaha ceria. Namun, hanya angin berdesau yang menjawab
sapaanku. “Nama saya Shanindya Naura
Shalika. Kalian bisa panggil saya bu Shanin. Saya guru sekaligus wali kelas
kalian yang baru. Semoga kalian bisa berkerja sama dengan saya dan menerima saya dengan baik
disini" hanya ada tatapan heran dan kudengar beberapa murid mulai berbisik-bisik tentangku. Aku melengos pelan, lalu kembali sibuk dengan menata
buku-bukuku yang tergeletak sembarang diatas meja guru.
Setelah merapikan meja
dan hendak memulai pelajaran, kulirik lagi murid laki-laki yang dengan santainya masih duduk diatas meja. Aku menatapnya heran. "Hei kamu yang duduk diatas meja! kamu tidak tau? saya ada disini, guru kamu sekarang! Kenapa kamu tidak kembali ke tempat dudukmu agar kita mulai
pelajaran ini?"
Murid laki-laki itu
hanya memandangku dengan menaikkan sebelah alisnya. Lalu tak lama, ia mulai turun dari meja dan keluar meninggalkan kelas. “Hei, mau kemana kamu? Saya tidak menyuruhmu untuk keluar kelas ya!”
sergahku
Dia hanya mengangkat
bahunya lalu berkata, “ Saya bosan bu...” Ia pun meninggalkan kelas sambil
mendengarkan musik dan berjalan dengan santainya. Aku menggeleng-gelengkan
kepalaku. Sungguh tak menyangka akan ada murid senakal itu.
Tak lama, aku kembali
memasuki kelas dan mulai mengabsen murid sebagai perkenalan dari A-Z. Dan aku akhirnya
tau, pemuda itu bernama Mario Stevano. Cukup bagus pikirku, tapi tidak sejalan lurus dengan
tingkah lakunya. Aku duduk di kursi dan permen karet bekas melekat di rokku.
Sial. Apalagi setelah ini? "Siapa yang menaruh ini?” Murid-murid di kelasku masih membisu.”Jika kalian tidak ada yang mengaku,
sepulang sekolah ini kalian harus
membersihkan wc murid dan guru, tak terkecuali perempuan atau laki-laki"
Kulanjutkan pelajaran setelah kupukulkan sebuah
penggaris besi panjang diatas meja, agar aku mendapatkan perhatian. Tiba-tiba
seorang murid cantik yang kuketahui namanya
adalah Ashilla, mengaku dengan nada sedikit takut. “Itu perbuatan mario bu..”
Aku mendesah tak
kentara. Anak itu lagi? Apa saja yang sudah di perbuatnya hari ini? "Apakah ada bukti? Kalau tidak ada, kalian tetap membersihkan wc. Saya
tidak mau tidak berbuat adil,” kataku dengan tegas.
Aku bisa mendengar anak-anak mulai mengerang, tak senang.
Setelah 90 menit
berlalu, akhirnya waktu mata pelajaranku selesai, digantikan guru lain. Setelah bel pulang,
aku kirimkan surat agar orang tua mario datang menghampiriku esok hari.
***
Pada saat jam istirahat,
kulihat dua orang paruh baya memasuki kantorku. Dan mungkin mereka adalah
orangtua Mario. Wanita yang sepertinya adalah ibu Mario, langsung menjabat
tanganku.
"Bu, apakah anak saya
berbuat ulah lagi?” kata ibu Mario. Lagi? Berarti selama ini orangtua Mario
sudah sering dipanggil?
“Bu tolong, saya titip Mario yah bu, mario
memang anak yang sangat nakal, tapi saya yakin, ibu bisa merubah mario."
Gila! apa maksudnya ini? aku saja hampir undur diri setelah melihat murid-murid
X1 IPA-3 yang tak punya aturan
itu. Apa alasan mereka bisa percaya kalau aku bisa merubah menjadi lebih baik? lucu sekali.
"Saya akan coba bu."
Jawabku terpaksa. Besok jadwal pelajaranku lagi. Ayo mari kita mulai pertempurannya.
"Pagi anak-anak!" tidak ada
tanggapan. Tapi tetap saja
kuteruskan. "mulai hari ini, saya mau kalian serius dalam pelajaran! Jangan hanya
bercanda setiap hari, setiap waktu" kataku dengan nada tegas. “Dan mulai hari ini juga, pelajaran
Intensif akan dimulai” hening. Sedetik kemudian terdengar protes dari seluruh
murid. Kecuali ashilla. Lumayan juga murid yang satu ini.
Tanpa basa-basi, kumulai pelajaran. Dan benar saja, murid-murid kelas ini
sangat sangat kurang dalam pelajaran fisika. Tak salah aku memberi pelajaran
tambahan setiap hari. Tak jarang ku bentak, ku sindir, dan ku ceramahi mereka.
Tapi tak jarang juga aku ikut tertawa saat Mario melontarkan leluconnya.
Sambil mondar-mandir di depan kelas. "sadarkah
kalian bahwa sebentar saja sudah menjelang kelas 12? Dan kalian masih seperti
ini? Jangan harap bisa lulus!" bentakku dengan emosi yang memuncak, entah
bagaimana kurasa semua murid terpaku.”kalian berjuang disini bukan hanya untuk
nilai yang bagus, tapi juga untuk masa depan kalian, demi mengahrumkan nama
kalian sendiri”lanjutku. Semua diam.
Sudah sekitar sebulan aku mengajar disini. Kulihat
perkembangan kelas XI IPA 3 cukup pesat meskipun masih jauh dari kata excellent tapi kami mulai menyatu bagai lem yang
tak terpisahkan. Terutama Mario. Aku teringat saat Mario mendapat nilai paling tinggi
meskipun hanya 85. Tentu saja Ashilla tidak masuk hari itu.
Hari demi hari kulewati bersama mereka. Setiap pagi
kusapa seluruh muridku dengan riang, melupakan segala sakit yang mulai
menggerogoti tubuh ini. Tidak kusadar, aku nyaman sekali berada disni, aku suka
membantu mereka mengerjakan soal-soal yang menurut mereka susah. Kuberikan
motivasi-motivasi yang terkadang hanya masuk dan keluar begitu saja dari
telinga mereka. Sistem pelajaran, kuubah sudah. Siapa yang nilainya bagus, akan
diberi hadiah, jika sebaliknya, hukuman menanti. Karena itu mereka sepertinya
berubah dengan pesat. Tentu saja mereka masih jail, Tak terkecuali Mario. Karna
dialah sang provokator. Tapi aku sudah terbiasa, mereka sudah biasa juga aku
beri hukuman yang tidak tanggung-tanggung melelahkannya, tapi hukuman yang bisa
menguntungkan juga bagiku. Entah membersihkan kelas, entah membersihkan sampah
dilapangan, entah mengambil daun-daun yang berguguran agar taman tetap rapi.
Ashilla, murid jagoanku itu kadang membantuku. jika
ada Ashilla, pasti Mario ikut. Selalu saja. Kadang jika aku memasak sesuatu
yang baru, kubuatkan juga seluruh murid-muridku, mereka sepertinya sangat
senang.
Beberapa hari lagi UAS dimulai, persiapan anak-anak
menurutku sudah matang, tidak ada alasan lagi untuk gagal. UAS selesai, aku
memasukan nilai-nilai mereka kedalam raport. Dan pertemuan wali murid.
Jelas terjadi perubahan, seperi upik abu yang menjadi cinderella. Tapi ini
belum maksimal, tapi lumayan sebagai awal. Ashilla mendapat ranking pertama,
dan mario ke 6, untunglah anak itu tidak menjadi ranking terakhir seperti
awalnya.
Bulan berganti, ashilla kusertakan dalam olimpiade
bersama murid lainnya. Mario ikut dalam ekskul basket. Mereka berkembang
ternyata.
Jika ada setitik harapan untuk sembuh dalam hidup ini,
aku akan berani mempertaruhkan segala yang kupunya untuk itu. Aku teringat
ketika pertama kali dokter mendiagnosa penyakitku yang sudah tidak bisa disembuhkan,
hanya transplatansi yang bisa
Jantungku
berdetak lebih lemah sekarang. Entah karena obat yang sudah tidak berpengaruh
lagi padaku, atau karena aku sering kecapekan. Aku sering mengakhiri kelas dan
berlari kedokter gara-gara jantung sialan ini. Dokter menambah dosis obatku,
namun tetap saja rasa sakit ini masih merasuki tubuhku.
Seperti saat aku mendapat serangan. Aku benci
saat-saat ini. Kuteguk obatku.
Ranking mario naik! dia tidak cabut kelas sekarang,
dia menurut saat ku sertakan ke dalam olimpiade bersama ashilla. Mario ranking
2, hebat sekali! Applause untuk kerja kerasnya!
Bertahan, berjuang, demi murid-muridku yang sudah
berjuang juga. Aku percaya, suatu hari nanti, mereka bisa membuat namaku harum,
membuat sekolah bangga. Meskipun mungkin, setelah itu. aku sudah tidak ada
disana. Sudah tidak bisa berdiri memberikan tepuk tangan terkeras untuk mereka.
Tapi, aku akan berusaha.
Setiap hari ashilla dan mario aku beri bimbingan
belajar. Mereka berjuang keras. Aku sudah mendaftarkan mereka pada ajang itu,
sekarang tinggal melihat bagaimana mereka berhasil.
Hasil yang memuaskan! keduanya masuk ke dalam babak
final. Final olimpiade, dilaksanakan tanggal 2 Mei, hari pendidikan, tanggal
lahirku juga, jika mereka menang, itu pasti akan menjadi hadiah terindah bagi
ulang tahun ke 25ku. Saat bimbingan, aku ceritakan itu pada mereka, mereka berjanji
"iya bu, kami akan berusaha untuk bu shanin, ya
kan Rio?"
"Yap bener dong!" mario, shilla dan aku
tertawa.
Tanggal 29 april 1995
Akhirnya setelah jadwal bimbingan yang sangat padat. 3 hari menuju final, aku masih tegap, berdiri mengajar
kelas lain yang aku tangani, tiba-tiba saja ada satu sentakan kesakitan dan kusadari
aku jatuh terbaring di lantai. Terdengar
suara muridku meneriakkan namaku, lalu menggendongku, entah menuju kemana.
Tanggal 30 april 1995
2 hari lagi
menuju final, aku sedang terbaring di kasur keras yang dingin. Aku, Shanindya Naura
Shalika, Mengaku, aku terlalu lelah untuk ikut tertawa bersama mereka ketika
Mario mengeluarkan lelucon, terlalu lelah untuk mendengarkan perdebatan kecil
antara ashilla dan Mario. aku harap kelas XI IPA 3 tetap baik-baik saja, dengan
atau tanpa aku disana. Dulu, aku berharap bisa seterang bintang yang bersinar
paling kuat. Namun ternyata, bintang yang paling kuat cahannya sudah mulai
redup dahulu.
Tanggal 1 mei 1995
Tepat pukul 23.47. beberapa jam lagi mario dan Ashilla
menuju final. Aku menuliskan kata-kata ini dengan susah payah. Sebenarnya aku
sudah tidak kuat untuk menulis, rasa sakit ini sudah tiada tara nya. Donor
jantungku pun belum juga datang. Untuk orang yang tidak tau, aku menderita
penyakit jantung sejak SMA, ironis memang. Aku tidak bisa menikmati rasa
mudaku. Aku putus asa untuk kesekian kalinya.
Kurasa ini sudah memasuki tanggal 2 Mei. Selamat Ulang
Tahun Shanindya Naura Shalika! Semoga dosa-dosa yang telah kuperbuat diampuni! Maaf
mario, maaf Ashilla, maaf semua, sekarang aku mungkin tidak bisa berjuang lagi
untuk kalian. aku sudah sangat lelah, aku melepas kalian dengan bangga.
terimakasih untuk segalanya. Sekarang saat aku pergi. Perjalananku sudah berakhir.
Dan aku pun menjadi bintang yang paling bersinar yang
sayangnya mulai meredup dan bersiap menjadi Nebula
***
Aku mengakhiri cerita, dengan muka masam.
"Dan tentu saja hari ini beliau berulang tahun. Bersamaan diperingati
juga sebagai hari dimana beliau telah tiada. sampai sekarang, buku harian itu
saya simpan dengan rapi. saya bersihkan jika ada debu, beliau memang pahlawan
saya" tiba-tiba aku ingat sesuatu.
"Beliau juga mengirimkan suatu surat pada tanggal 2 Mei, mau tau
isinya?" Murid-muridku menjawab "tentu saja jika bapak berkenan"
Oke aku menjelaskan.
*
2 mei 1995
Sudah beberapa hari aku tidak melihat bu Shanin. Dari desas-desus yang terdengar beliau sedang ada urusan keluarga. Padahal hari ini, aku dan Ashilla menghadapi final olimpiade. Harusnya bu Shanin ada disini! Pasti ada yang salah.
Setelah upacara memperingati hari pendidikan selesai,
aku masih tidak melihat bu Shanin. Bu shanin hari ini berulang tahun, Ashilla dan
aku sudah membeli kado. Dan kita juga sudah siap secara mental dan otak untuk memenangkan
olimpiade. Tapi bu Shanin menghilang.
Terdengar pengumuman. "saya selaku kepala sekolah
menyampaikan dengan rasa duka yang mendalam. Guru yang kita sayangi, bu Shanindya
Naura..." Suara kepala sekolah agak tercekat "telah tiada..."
Beliau meneruskan.
Kurasakan tubuh Ashilla bergetar. aku memeluknya, "Bu
Shanin gak mungkin ninggalin kita Rio." Dia berguncang-guncang dalam
pelukanku, aku hanya diam. Masih shock. Ashilla menangis sejadi-jadinya.
Pertama kalinya XII IPA 3 diselimuti duka mendalam.
Mereka meraung, tak peduli seberapa keras raungan itu. Shilla masih tetap dalam
pelukanku. Ada pengumuman lagi "ashilla zahrantiara dan mario stevano dari
X1 IPA-3 diharap keruang kepala sekolah sekarang" ada apa lagi ini.
Kulihat kepala sekolah mengulurkan sepucuk surat dan sebuah
buku padaku. apa itu? Entahlah otakku tidak bisa berfikir sekarang ini.
"Ini surat dari bu Shanin untuk kalian XII IPA 3" aku terima surat
itu. "Bacalah bersama-sama” Air mukanya berubah, menjadi berkabut, tak
secerah biasanya.
Aku dan shilla kembali ke kelas. Membuka surat itu
dengan hati-hati. kubacakan selantang yang aku bisa. "Ini surat dari bu shanin, kita buka ya?"
Semua mengangguk.
"Pagi yang cerah ya anak-anak? kalau surat ini
sudah ada di tangan kalian, berarti ibu sudah tidak ada disana..." Bunyi
bait pertama. Aku tercekat, tenggorokanku rasanya kering.
"Ibu mohon, kalian tetap berjuang, ada atau tanpa
ibu disana, ibu sangat bangga sama kalian, nilai-nilai kalian berubah pesat,
kalian makin hebat dan makin menonjol di SMA ini. Ibu masih akan tetap menunggu
hasil yang maksimal dari kalian di UAS taun depan. Ibu sangat bangga terhadap kalian.
Selalu. Dan untuk mario dan ashilla." Aku mulai meneteskan airmata,
cengeng sekali rasanya.
"Ibu juga masih menunggu.... menunggu kemenangan
kalian di olimpiade nanti. ibu dengar, kalian tetap belajar sendiri ka saat ibu
dirawat dirumah sakit? pasti kalian bisa! Kalian itu hebat! Ibu berharap berada
disana, memberi kalian berdua tepuk tangan paling keras dan meneteskan airmata
bahagia untuk kalian. Dan untuk XII IPA 3 tetap berjuang ya anak-anak!"
Surat berakhir, tangisan makin menjadi-jadi... oh tuhan...
Sekarang, waktunya aku dan Shilla berjuang demi bu
shanin.
*
"Saya dan shilla
berhasil, saya dan Ashilla
mendapat juara 1. Dan itu semua kami persembahkan untuk bu shanin. Sejak tanggal itu, 2 mei adalah hari menyakitkan sekaligus
paling manis. 2 mei tidak hanya dijadikan hari pendidikan. bagiku, bagi Ashilla,
dan bagi murid XII IPA 3, tanggal itu adalah hari dimana kami mengerti arti
kehilangan. Mengerti arti perjuangan sesungguhnya, yang sebelumnya kami tidak
pernah tau itu. Orang tua dari murid bangga, sekolah pula, apalagi kami. kami
sudah berjanji pada diri sendiri, dan bu shanin, untuk tetap berjuang, demi ibu
dhanin, dan demi masa depan kami.." Ya. aku meneteskan air mata, kuseka
dengan cepat. Muridku juga ada beberapa yang menangis, apa sebegitu
menyentuhnya cerita ini? mungkin bagi orang yang belum pernah merasakan
kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, akan berkata tidak.
Livia, muridku bertanya "Lalu apa kabar Ashilla pak? dan anak-anak XII
IPA 3 ?" Aku tertawa kecil mengingatnya. "Saya jatuh cinta sama Ashilla.
Ashilla menjadi dokter anak. sekaligus istri saya, ibu dari anak saya yang
lucu” aku tertawa kecil. Kudengar murid-murid berceloteh betapa romantisnya aku
dan Ashilla. “Dan anak-anak XII IPA 3. seperti janjinya, mereka sukses! dan
pasti bu shanin akan bangga disana"
"Dan ini sebabnya,
bapak bisa mengajar dan dihormati, disegani oleh siswa-siswa disini?"Kata Gracia
"Ya saya ingin mencontoh bu shanin, karena saya menjadi merasa dekat
dengan bu shanin jika melakukan pekerjaan ini. Pesan saya, berjanjilah untuk selalu berusaha membanggakan
orang yang kamu sayangi dan menyayangimu. itu hal yang membahagiakan untuk mereka.
Percayalah!" bel berbunyi. Saatnya mengakhiri pelajaran, setelah aku
ucapkan salam, aku berlalu meninggalkan kelas.
No comments:
Post a Comment